Postingan

Penyampai Pesan Kematian

Oleh: Taring               Mendaki bukit, lewati lembah seperti pada lirik lagu Ninja Hatori, tampak juga anak sungai yang mengalir indah, meski saat ini Sikon (Situasi dan Kondsi) sedang tidak indah-indahnya. Berbaris layaknya semut, bedanya iringan serangga tersebut kerap bergerak ke tujuan dan arah yang pasti, di mana ada gula, di sana pula arah tujunya. Tujuan kami pasti, ingin segera kembali ke tenda, agar bisa merebahkan badan, menyantap makanan, juga bersendau gurau, namun sampai gelap menghampiri, kami masih terjebak dalam ketidakpastian arah, berulang kali mondar-mandir di jalur yang sama. Gerimis, susana mencekam, serta rasa lelah membuat kami menyerah pada arahan GPS ( Global Positioning System ). Setelah berulang kali, usulku diterima juga, berteduh di gubuk yang tampak sore tadi, sempat terpikir hanya aku yang melihatnya, ternyata Miska juga. Keyakinan mengatakan kalau gubuk itu nyata, meski hanya kami berd...

Bersujud Pada Tahi Ayam

  Oleh: Taring Penghuni di balik tembok tidak tahu dan tidak pernah mau tahu akan rasa iba yang melanda Jamal, mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Ada anak balita sedang menonton youtube di teras rumah lewat arahan orang tuanya yang baru saja membelikannya tablet sebagai hadiah ulang tahun. Ada juga warga negara asing yang sibuk bercinta dari pagi hingga sore bersama wanita simpanannya, karena besok ia harus kembali ke negara kediamannya. Sementara di tempat wisata tepi pantai, berpasang-pasang remaja yang sedang dimabuk asmara hanya menganggap Jamal buih di lautan, masing-masing pasangan pra halal tersebut beranggapan kalau dunia ini hanya milik mereka, yang lain numpang. *** Sore menanti kedatangan malam, berganti peran menjadi tabir langit, sebuah sampan kayu baru saja menepi di lahan yang desas-desusnya akan dibangun simbol kemegahan kota. Untuk kesekian kalinya, Jamal menapakkan kaki di garis pantai yang semakin hari semakin keruh, sekeruh kelakuan para pengua...